Hasil penelitian UNS Sebelas Maret Pewarna makanan penyebab kanker

Friday, 20 June 2008



SOLO - Dari hasil penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surakarta (UNS) Sebelas Maret, sebuah bahan kimia dengan nama metanil yellow atau zat pewarna sintetis kuning diduga kuat telah digunakan sebagai bahan campuran dalam sejumlah produk makanan hingga berwarna kuning memikat.

Dalam keterangannya kepada Wawasan, Kamis kemarin, Ketua Pusat Pengembangan Pangan Gizi dan Kesehatan Masyarakat (P3GKM) LPPM UNS, Sri Hadayani mengatakan, temuan adanya kandungan metanil yellow itu didapat dari hasil penelitan berbagai jenis produk makanan.

"Penggunaan zat berbahaya ini terdapat pada makanan jenis gorengan, untuk mendapatkan warna kuning yang me-mikat. Sebelumnya memakai campuran kunyit, " kata dia.

Handayani mengatakan, untuk membuat campuran kunyit membutuhkan ketelatenan dan kesabaran, sehingga banyak produsen makanan yang ingin mencari mudahnya dengan menggunakan metanil yellow.

Secara kasat mata, lanjut dia, kandungan zat kimia metanil yellow dalam makanan tidak dapat dideteksi. Namun setelah dilakukan tes uji laborat akan nampak sekali keberadaan zat kimia itu.

"Metanil yellow merupakan zat kimia yang mengandung logam berat, di mana jika masuk ke dalam tubuh dapat memicu kanker. Sedang zat kimia yang dicampur dalam makanan semacam ini, cukup banyak jenisnya seperti Rhodamin B, Borax serta Formalin," ujarnya.

Kasat mata
Menurut Handayani, sulit untuk meneliti secara kasat mata, dan mengetahui apakah suatu produk makanan mengadung zat-zat kimia berbahaya semacam ini atau tidak.

"Maka yang dapat kami lakukan hanya dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat sebagai konsumen. Misalnya dengan memberikan imbauan agar mengurangi konsumsi makanan yang berwarna- warni," katanya.

Adapun bagi para produ-sen, kata dia, dapat beralih dengan menggunakan zat pewarna alami untuk memeroleh produk makanan yang menarik.

"Harus kami akui, salah satu sebab pemicu penggunaan zat kimia berbahaya ini ialah masalah ekonomi. Harga zat-zat kimia semacam ini jauh lebih murah dibanding zat pewarna alami yang ada," katanya.

Handayani mengatakan, atas temuan produk makanan yang mengandung bahan ki-mia berbahaya ini, lembaganya telah menyampaikan kepada Wali Kota Surakarta, Joko Widodo.

Bahkan sejumlah masukan telah disampaikan kepada wali kota. Di antaranya agar pemerintah kota, melalui dinas perindustrian dan perdagangan setempat memberikan subsidi pembelian bahan pewarna alami, bagi para pedagang kecil. Hud-ip

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Penyelesaian Tugas RSM

Zat Aditif yang terkandung dalam Bahan Makanan

Mangkunegaran Performing Art 2011 - Keajaiban Budaya Kota Surakarta